A.
PENGERTIAN DIKSI
Pilihan
kata atau Diksi adalah pemilihan kata – kata yang sesuai dengan apa yang hendak
kita ungkapkan. Diksi atau Plilihan kata mencakup pengertian kata – kata
mana yang harus dipakai untuk mencapai suatu gagasan, bagaimana membentuk
pengelompokan kata – kata yang tepat atau menggunakan ungkapan – ungkapan, dan
gaya mana yang paling baik digunakan dalam suatu situasi.
Pemilihan
kata mengacu pada pengertian penggunaan kata-kata tertentu yang sengaja dipilih
dan digunakan oleh pengarang. Mengingat bahwa karya fiksi (sastra) adalah
dunia dalam kata, komunikasi dilakukan dan ditafsirkan lewat kata-kata.
Pemilihan kata-kata tentunya melalui pertimbangan-pertimbangan tertentu untuk
mendapatkan efek yang dikehendaki (Nurgiyantoro 1998:290).
Jika
dilihat dari kemampuan pengguna bahasa, ada beberapa hal yang mempengaruhi
pilihan kata, diantaranya :
·
Tepat memilih kata untuk mengungkapkan gagasan
atau hal yang ‘diamanatkan’.
·
Kemampuan untuk membedakan secara tepat
nuansa-nuansa makna sesuai dengan gagasan yang ingin disampaikan dan kemampuan
untuk menemukan bentuk yang sesuai dengan situasi dan nilai rasa pembacanya.
·
Menguasai sejumlah kosa kata (perbendaharaan
kata) yang dimiliki masyarakat bahasanya, serta mampu menggerakkan dan
mendayagunakan kekayaannya itu menjadi jaring-jaring kalimat yang jelas dan
efektif.
Adapun fungsi Pilihan kata atau Diksi adalah untuk
memperoleh keindahan guna menambah daya ekspresivitas. Maka sebuah kata akan
lebih jelas, jika pilihan kata tersebut tepat dan sesuai. Ketepatan pilihan
kata bertujuan agar tidak menimbulkan interpretasi yang berlainan antara
penulis atau pembicara dengan pembaca atau pendengar, sedangkan kesesuaian kata
bertujuan agar tidak merusak suasana. Selain itu berfungsi untuk menghaluskan
kata dan kalimat agar terasa lebih indah. Dan juga dengan adanya diksi oleh
pengarang berfungsi untuk mendukung jalan cerita agar lebih runtut
mendeskripsikan tokoh, lebih jelas mendeskripsikan latar waktu, latar tempat,
dan latar sosial dalam cerita tersebut.
B.
PENGGUNAAN
DIKSI
Contoh-contoh pengunaan diksi dalam cerita fiktif
misalnya penggunaan majas metafora, anafora, litotes, simile, personafikasi dan
sebagainya.
Majas (figurative language)
adalah bahasa kias, bahasa yang dipergunakan untuk menciptakan efek tertentu.
Majas merupakan bentuk retoris, yang penggunaannya antara lain untuk
menimbulkan kesan imajinatif bagi penyimak atau pembacanya. Secara garis besar,
majas-majas tersebut terbagi dalam majas perbandingan, pertentangan,
pertautan, dan perulangan.
1.
Majas Perbandingan
a.
Asosiasi (simile) adalah
perbandingan dua hal yang pada hakikatnya berbeda, tetapi sengaja dianggap
sama. Majas ini ditandai oleh penggunaan kata bagai, bagaikan, seumpama,
seperti.
Contoh : Semangatnya keras bagaikan baja.
Wajahnya bagai bulan
purnama.
b.
Metafora adalah majas perbandingan yang
diungkapkan secara singkat dan padat.
Contoh : Dia dianggap anak
emas majikannya.
Perpustakaan adalah gudang ilmu.
c.
Personifikasi adalah majas yang
membandingkan benda-benda tidak bernyawa seolah-olah memiliki sifat seperti
manusia.
Contoh : Badai mengamuk dan
merobohkan rumah penduduk.
Daun kelapa melambai-lambai di tepi pantai.
d.
Alegori adalah cerita kiasan atau lukisan yang
mengiaskan hal lain atau kejadian lain.
Contoh : Puisi “Diponegoro” karya Sanusi Pane.
2.
Majas Pertentangan
a.
hiperbola adalah majas yang mengandung
pernyataan yang berlebih-lebihan dengan maksud untuk memperhebat, meningkatkan
kesan dan daya pengaruh.
Contoh : Saya terkejut setengah
mati mendengar perkataannya.
Tubuhnya kurus kering setelah ditinggalkan oleh ayahnya.
b.
Litotes adalah majas yang ditujukan
untuk mrngurangi atau mengecil-ngecilkan kenyataan sebenarnya. Tujuannya antara
lain untuk merendahkan diri.
Contoh : Kami berharap Anda menerima pemberian yang tidak berharga ini.
Gajiku tak seberapa, hanya cukup untuk makan anak dan istri.
c.
Ironi adalah majas yang menyatakan makna yang
bertentangan dengan maksud untuk menyindir atau memperolok-olok.
Contoh : Bagus sekali rapormu,
Andi, banyak angka merahnya.
Rajin sekali kamu, lima
hari kamu tidak masuk sekolah.
d.
Sinisme adalah majas yang menyatakan sindiran
secara langsung dan agak kasar.
Contoh : Perkataanmu tadi sangan
menyebalkan. Kata-kat itu tidak pantas disampaikan orang terpelajar
seperti kamu!
Bisa-bisa aku jadi gila melihat kelakuanmu itu!
e.
Sarkasme adalah sindiran kasar berupa ungkapan
kasar yang dapat menyakitkan hati orang.
Contoh : Tidurnya saja sehari-hari
seperti babi.
Kamu ini benar-benar goblok, bebal, otaku udang.
3.
Majas Pertautan
a.
Metonomia adalah majas yang memakai nama ciri
atau nama hal yang ditautkan dengan nama orang, barang, atau hal lainnya
sebagai penggantinya. Kita dapat menyebut penciptanya atau pembuatnya jika yang
kita maksudkan adalah ciptaan atau buatannya. Bisa pula kita menyebut bahan
dari barang yang dimaksud.
Contoh : Ayah baru saja membeli zebra,
padahal saya ingin Kijang.
b.
Sinekdok Pars Pro Toto adalah majas yang
menyebutkan nama bagian sebagai pengganti nama keseluruhannya.
Contoh : Setiap kepala
dikenakan biaya.
Dia membeli dua ekor ayam.
c.
Sinekdok Totem Pro Parte adalah menyebutkan
keseluruhan untuk pengganti sebagian saja.
Contoh : Semoga Indonesia menjadi
juara Thomas Cup.
Desa itu diserang muntaber.
d.
Alusio adalah majas yang menunjuk secara tidak
langsung pada suatu tokoh atau peristiwa yang sudah diketahui bersama.
Contoh : Banyak korban berjatuhan
akibat kekejaman Nazi.
Apakah setiap guru harus bernasib seperti Umar Bakri?
e.
Elipsis adalah majas yang di dalamnya terdapat
penghilangan kata atau bagian kalimat.
Contoh : Dia dan ibunya ke Tasikmalaya. (Penghilangan predikat pergi)
Lari! (Penghilangan subjek kamu)
f.
Inversi adalah majas yang dinyatakan oleh
pengubahan susunan kalimat.
Contoh : Paman saya wartawan =
Wartawan, paman saya.
Dia datang = Datang dia.
4.
Majas Penegasan/Perulangan
a. Pleonasme
adalah majas yang menggunakan kata-kata secara berlebihan dengan maksud untuk
menegaskan arti suatu kata.
Contoh : Mereka turun ke bawah untuk melihat keadaan
barang-barangnya yang jatuh.
Dukun itu menengadah ke atas sambil menengadahkan tangannya.
Aku menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri.
b. Klimaks
adalah majas yang menyatakan beberapa hal berturut-turut yang makin lama makin
menghebat.
Contoh : Semua jenis kendaraan, mulai dari sepeda, motor, sampai
mobil bejejer di halaman.
Baik itu RT, Kepala Desa, Camat, Bupati, Gubernur, maupun Presiden
memiliki kedudukan sama di mata Tuhan.
c. Antiklimaks
adalah majas yang menyatakan beberapa hal berturut-turut yang makin lama makin
menurun (melemah).
Contoh : Bapak Kepala Sekolah, Para
guru, dan murid-murid, sudah hadir di lapangan upacara.
Gedung-gedung, rumah-rumah, dan gubuk-gubuk, semuanya
mengibarkan Sang Saka Merah Putih.
d. Retoris
adalah majas yang berupa kalimat Tanya yang jawabannya itu sudah diketahui oleh
penanya. Tujuannya untuk memberikan penegasan pada masalah yang diuraikannya,
untuk meyakinkan, ataupun sebagai sindiran.
Contoh : Siapa yang tidah ingin hidup bahagia?
Apa ini hasil dari pekerjaanmu selama bertahun-tahun?
e. Aliterasi
adalah majas yang memanfaatkan kata-kata yang bunyi awalnya sama.
Contoh : Dara damba daku, datang
dari danau.
Inilah indahnya impian, insan ingat
ingkar.
f. Antanaklasis
adalah majas yang mengandung ulangan kata yang sama, dengan makna yang berbeda.
Contoh :Karena buah penanya yang
controversial, dia menjadi buah bibir masyarakat.
Kita harus saling menggantungkan diri satu sama lain. Jika
tidak, kita telah menggantung diri.
g. Repetisi
adalah majas perulangan kata-kata sebagai penegasan dalam kalimat yang berbeda.
Contoh : Terlalu banyak penderitaan menimpa
dirinya. Terlalu banyak masalah yang dihadapinya. Terlalu banyak.
h. Tautologi
adalah majas perulangan kata-kata sebagai penegasan dalam sebuah kalimat.
Contoh : Selamat datang pahlawanku,
selamat datang pujaanku, selamat datang bunga bangsaku.
i. Paralelisme
adalah majas perulangan sebagaimana halnya repetisi, hanya disusun dalam baris
yang berbeda. Biasanya terdapat dalam puisi.
Contoh : Sunyi itu duka.
Sunyi itu kudus.
Sunyi itu lupa.
Sunyi itu mampus.
j. Kiasmus
adalah majas yang berisi perulangan dan sekaligus menganduk inverse.
Contoh : Yang kaya merasa dirinya miskin,
sedangkan yang miskin merasa dirinya kaya.
Dalam kehidupan ini banyak orang intar yang mengaku bodoh,
dan orang bodoh banyak yang merada dirinya pintar.
- UNSUR-UNSUR DALAM DIKSI
Didalam penggunaan Diksi terdapt beberpa aspek atau bagian agar pemilihan
kata yang digunakan dapat berkesinambungan, antara lain :
- KETEPATAN DAN KESESUAIAN KATA
Dua persyaratan pokok yang harus diperhatikan dalam memilih kata (diksi),
yaitu ketepatan dan kesesuaian.
Ketepatan
adalah kesesuaian pemakaian unsur-unsur yang membentuk suatu kalimat sehingga
tercipta suatu pengertian yang baik.dalam mengungkapkan sebuah gagasan atau
ide.
Syarat Ketepatan pemilihan kata, terdapat 6
syarat, yaitu :
1. Dapat
membedakan antara makna denotasi dan konotasi.
2.
Dapat membedakan kata-kata yang hampir bersinonim.
3.
Dapat membedakan kata-kata yang hampir mirip ejaanya.
4.
Dapat memahami dengan tepat makna kata – kata konkret dan abstrak.
5.
Dapat memakai kata penghubung yang berpasangan secara tepat.
- Antara….dan….
- Tidak….tetapi…
6.
Dapat membedakan kata-kata umum dan kata khusus.
Kesesuaian adalah kecocokan dalam penggunaan kata,
kecocokan mencakup soal kata mana yang akan digunakan dalam kesempatan
tertentu. Walaupun terkadang masih terdapat beberapa perbedaan seperti tata
bahasa, pola kalimat, panjang atau kompleknya suatu alinea, dan segi lainnya.
Syarat
Kesesuaian pemilihan kata, yaitu :
1. Hindarilah sejauh mungkin bahasa
atau unsur substandar dalam situasi yang formal
2. Gunakanlah kata-kata ilmiah
dalam situasi yang khusus saja. Dalam situasi yang umum hendaknya penulis dan
pembicara mempergunakan kata-kata popular.
3. Hindarilah jargon dalam
tulisan untuk pembaca umum.
4. Penulis atau pembicara
sebisa mungkin menghindari pemakaian kata-kata slang.
5. Dalam penulisan jangan
mempergunakan kata percakapan.
6. Hindarilah
ungkapan-ungkapan using (idiom yang mati).
7.
Jauhkan kata-kata atau bahasa yang artfisial.
Berikut penjelasan lebih
lanjutnya.
1.1. Makna
Didalam pemilihan kata tidak hanya memerhatikan kesesuaian dan ketepatan
kata, namun terdapat pula beberapa makna yang harus diperhatikan. Makna terbagi
menjadi beberapa bagian, antara lain :
a.
Makna Leksikal dan Makna Gramatikal
Makna leksikal ialah makna kata secara lepas, tanpa kaitan dengan
kata yang lainnya dalam sebuah struktur (frase klausa atau kalimat).
Contoh:
Rumah : Bangunan untuk tempat tinggal
manusia.
Makan : Mengunyah dan menelan sesuatu.
Makanan : Segala sesuatu yang boleh dimakan.
Makna leksikal kata-kata tersebut dimuat dalam kamus. Makna gramatikal
(struktur) ialah makna baru yang timbul akibat terjadinya proses gramatikal
(pengimbuhan, pengulangan, pemajemukan).
Contoh:
Berumah : Mempunyai rumah.
Rumah-rumah : Banyak rumah.
Rumah makan : Rumah tempat makan.
Rumah ayah : Rumah milik ayah.
b.
Makna Denotasi dan Konotasi
Makna denotatif (referensial) ialah makna yang menunjukkan langsung pada
acuan atau makna dasarnya.
Contoh:
Merah : Warna seperti warna darah.
Ular : Binatang menjalar, tidak berkaki,
kulitnya bersisik.
Makna konotatif (evaluasi) ialah makna tambahan terhadap makna dasarnya
yang berupa nilai rasa atau gambar tertentu.
Contoh:
Makna dasar
Makna tambahan
(denotasi)
(konotasi)
Merah : warna ……………………….berani; dilarang
Ular : binatang ……………………..menakutkan/
berbahaya
Makna dasar beberapa kata misalnya: buruh, pekerjaan, pegawai, dan
karyawan, memang sama, yaitu orang yang bekerja, tetapi nilai rasanya berbeda.
Kata buruh dan pekerja bernilai rasa rendah/ kasar, sedangkan pegawai dan
karyawan bernilai rasa tinggi.
Konotasi dapat dibedakan atas dua macam, yaitu konotasi positif dan
konotasi negatif.
Contoh:
Konotasi
positif
Konotasi negatif
suami
istri laki
bini
tunanetra
buta
pria laki-laki
Kata-kata yang bermakna denotatif tepat digunakan dalam karya ilmiah,
sedangkan kata-kata yang bermakna konotatif wajar digunakan dalam karya sastra.
1.2.
Kata-kata yang Hampir Bersinonim
1.
Sinonim
Sinonim ialah dua kata atau lebih yang memiliki makna
yang sama atau hampir sama, tetapi bentuknya berlainan. Kesinoniman kata
tidaklah mutlak, hanya ada kesamaan atau kemiripan.Sinonim ini dipergunakan
untuk mengalih-alihkan pemakaian kata pada empat tertentu sehingga kalimat itu
tidak membosankan. Dalam pemakaiannya bentuk-bentuk kata yang bersinonim akan
menghidupkan bahasa seseorang dan mengonkretkan bahasa seseorang sehingga
kejelasan komunikasi (lewat bahasa itu) akan terwujud. Dalam hal ini pemakai
bahasa dapat memilih bentuk kata mana yang paling tepat untuk dipergunakan
sesuai dengan kebutuhan dan situasi yang dihadapinya.
Contoh:
a. Yang sama maknanya
sudah - telah
sebab - karena
amat - sangat
b. Yang hampir sama maknanya
untuk – bagi – buat – guna
cinta – kasih – sayang
melihat – mengerling – menatap – menengok
2.
Antonim
Antonim ialah kata-kata yang berlawanan maknanya/ oposisi.
Contoh:
Besar ><
kecil
Ibu ><
bapak
Bertanya >< menjawab
3.
Homonim
Homonim ialah dua kata atau lebih yang ejaannya sama, lafalnya sama,
tetapi maknanya berbeda.
Contoh:
bisa I : racun
bisa II : dapat
kopi I : minuman
kopi II : salinan
4.
Homograf
Homograf adalah dua kata atau lebih yang tulisannya sama, ucapannya
berbeda, dan maknanya berbeda.
Contoh:
Tahu : makanan
Tahu : paham
Teras : inti kayu
Teras : bagian rumah
5.
Homofon
Homofon ialah dua kata atau lebih yang tulisannya berbeda, ucapannya
sama, dan maknanya berbeda.
Contoh:
bang dengan
bank
masa
dengan massa
6.
Polisemi
Polisemi ialah suatu kata yang memilki makna banyak.
Contoh:
a. Didik jatuh dari sepeda.
b. Harga tembakau jatuh.
c. Peringatan HUT RI ke-55
jatuh hari Minggu.
d. Setiba di rumah dia jatuh
sakit.
e. Dia jatuh dalam ujiannya.
7.
Hiponim
Hiponim ialah kata-kata yang tingkatnya ada di bawah kata yang menjadi
superordinatnya/ hipernim (kelas atas).
Contoh: Kata
bunga merupakan superordinat, sedangkan mawar, melati, anggrek, flamboyan, dan
sebagainya merupakan hiponimnya. Hubungan mawar, melati, anggrek, dan flamboyan
disebut kohiponim.
1.3. Kata-kata yang Hampir Mirip Ajaannya
Bila penulis sendiri tidak mampu membedakan kata-kata yang mirip ejaannya
itu, makna akan membawa akibat yang tidak diinginkan, yaitu salah paham.
Kata-kata yang mirip dalam tulisannya itu misalnya: bahwa-bawah-bawa,
interferensi-inferensi, karton-kartun, preposisi-proposisi, korporasi-koperasi,
dan lain sebagainya.
1.4. Makna Kata-kata Konkret dan Abstrak
Kata-kata konkret adalah kata-kata yang menunjuk kepada objek yang
dilihat, didengar, disarakan, diraba, atau dibau; sedangkan kata-kata abstrak
ialah kata-kata yang menunjuk kepada sifat, konsep, atau gagasan. Kata-kata
konkret lebih mudah dipahami dari pada kata-kata abstrak. Karena itu, dalam
karangan sebaiknya dipakai kata konkret sebanyak-banyaknya agar isi karangan
itu menjadi lebih jelas. Kata yang acuannya semakin mudah diserap panca indra
disebut kata konkret, seperti meja, rumah, mobil, air, cantik, hangat, wangi,
suara. Jika acuan sebuah kata tidak mudah diserap panca indra, kata itu disebut
kata abstrak, seperti gagasan dan perdamaian. Kata abstrak digunakan untuk
mengungkapkan gagasan rumit. Kata abstrak mampu membedakan secara halus gagasan
yang bersifat teknis dan khusus. Akan tetapi, jika kata abstrak terlalu diobral
atau dihambur-hamburkan dalam suatu karangan, karangan itu dapat menjadi samara
dan tidak cermat.
Kata-kata konkrit dapat lebih efektif jika dipakai dalam karangan narasi
atau deskripsi sebab, dalam merangsang panca indra. Kata-kata abstrak sering
dipakai untuk mengungkapkan gagasan atau ide-ide yang rumit.
1.5. Kata Penghubung
Kata penghubung adalah kata tugas yang
menghubungkan antar klausa, antar
kalimat, dan antar paragraf. Kata penghubung antar klausa biasanya terletak di
tengah-tengah kalimat, sedangkan kata penghubung antar kalimat di awal kalimat
(setelah tanda titik, tanda seru, atau tanda tanya), dan kata penghubung antar
paragraf letaknya di awal paragrap.
kalimat, dan antar paragraf. Kata penghubung antar klausa biasanya terletak di
tengah-tengah kalimat, sedangkan kata penghubung antar kalimat di awal kalimat
(setelah tanda titik, tanda seru, atau tanda tanya), dan kata penghubung antar
paragraf letaknya di awal paragrap.
Macam-macam
kata penghubung dan fungsinya :
1. Kata Penghubung Aditif (gabungan)
Kata Penghubung aditif (gabungan) adalah konjungsi
koordinatif yang berfungsi menggabungkan dua kata, frasa, klausa, atau kalimat
dalam kedudukan yang sederajat, misalnya : dan, lagi, lagi pula, dan serta.
2. Kata Penghubung Pertentangan
Kata penghubung
pertentangan merupakan konjungsi koordinatif yang menghubungkan dua bagian kalimat
yang sederajat dengan mempententangkan kedua bagian tersebut. Biasanya bagian
yang kedua menduduki posisi yang lebih penting daripada yang pertama, misalnya
: tetapi, akan tetapi, melainkan,sebaliknya, sedangkan, padahal, dan namun.
3. Kata Penghubung Disjungtif
(pilihan)
Kata penghubung
pilihan merupakan konjungsi koordinatif yang menghubungkan dua unsur yang
sederajat dengan memilih salah satu dari dua hal atau lebih, misalnya: atau,
atau....atau, maupun, baik...baik..., dan entah...entah...
4. Kata Penghubung Temporal
(waktu)
Kata
penghubung temporal menjelaskan hubungan waktu antara dua hal atau peristiwa. Kata-kata konjungsi temporal berikut ini menjelaskan
hubungan yang tidak sederajat, misalnya : apabila, bila,
bilamana, demi, hingga, ketika, sambil, sebelum, sampai,
sedari, sejak, selama, semwnjak, sementara, seraya, waktu, setelah, sesudah, dan tatkala. Sementana konjungsi berikut ini
menghubungkan dua bagian kalimat yang sederajat, misalnya
sebelumnya dan sesudahnya.
5. Kata Penghubung Final
(tujuan)
Konjungsi tujuan
adalah semacam konjungsi modalitas yang menjelaskan maksud
dan tujuan suatu penistiwa, atau tindakan. Kata-kata yang biasa dipakai untuk
menyatakan hubungan ini adalah : supaya, guna, untuk, dan agar.
dan tujuan suatu penistiwa, atau tindakan. Kata-kata yang biasa dipakai untuk
menyatakan hubungan ini adalah : supaya, guna, untuk, dan agar.
6. Kata Penghubung Sebab
(kausal)
Konjungsi sebab
menjelaskan bahwa suatu peristiwa terjadi karena suatu sebab
tertentu. Bila anak kalimat ditandai oleh konjungsi sebab, induk kalimat merupakan akibatnya. Kata-kata yang dipakai untuk menyatakan hubungan sebab adalah sebab, sebab itu, karena, dan karena itu.
tertentu. Bila anak kalimat ditandai oleh konjungsi sebab, induk kalimat merupakan akibatnya. Kata-kata yang dipakai untuk menyatakan hubungan sebab adalah sebab, sebab itu, karena, dan karena itu.
7. Kata Penghubung Akibat
(konsekutif)
Konjungsi akibat
menjelaskan bahwa suatu peristiwa terjadi akibat suatu hal yang
lain. Dalam hal ini anak kalimat ditandai konjungsi yang menyatakan akibat,
sedangkan peristiwanya dinyatakan dalam induk kalimat. Kata-kata yang dipakai
untuk menandai konjungsi akibat adalah sehingga, sampai, dan akibatnya.
lain. Dalam hal ini anak kalimat ditandai konjungsi yang menyatakan akibat,
sedangkan peristiwanya dinyatakan dalam induk kalimat. Kata-kata yang dipakai
untuk menandai konjungsi akibat adalah sehingga, sampai, dan akibatnya.
8. Kata Penghubung Syarat
(kondisional)
Konjungsi syarat
menjelaskan bahwa suatu hal dapat terjadi bila syarat-syarat yang disebutkan
itu dipenuhi. Kata kata yang menyatakan hubungan ini adalah jika, jikalau,
apabila, asalkan, kalau, dan bilamana.
9. Kata Penghubung Tak Bersyarat
Kata penghubung tak bersyarat
menjelaskan bahwa suatu hal dapat terjadi tanpa
perlu ada
syarat-syarat yang dipenuhi. Kata-kata yang termasuk dalam konjungsi ini adalah
walaupun, meskipun, dan biarpun.
10. Kata Penghubung Perbandingan
Kata penghubung
perbandingan berfungsi menghubungkan dua hal dengan cara
membandingkan kedua hal itu. Kata kata yang sering dipakai dalam konjungsi ini
adalah sebagai, sebagaimana, seperti, bagai, bagaikan, seakan-akan, ibarat,
umpama, dan daripada.
membandingkan kedua hal itu. Kata kata yang sering dipakai dalam konjungsi ini
adalah sebagai, sebagaimana, seperti, bagai, bagaikan, seakan-akan, ibarat,
umpama, dan daripada.
11. Kata Penghubung Korelatif
Konjungsi
korelatif menghubungkan dua bagian kalimat yang mempunyai hubungan sedemikian
rupa sehingga yang satu langsung mempenganuhi yang lain atau yang satu
melengkapi yang lain. Dapat juga dikatakan bahwa kedua kalimat mempunyai hubungan
timbal-balik. Kata-kata yang yang menyatakan konjungsi ini adalah semakin ….. .
semakin, kian .. . kian...,bertambah ... bertambah . . , tidak hanya…….,tetapi
juga..., sedemikian rupa..., sehingga..., baik..., dan maupun.
12. Kata Penghubung Penegas (menguatkan
atau intensifikasi)
Konjungsi ini
berfungsi untuk menegaskan atau meningkas suatu bagian kalimat
yang telah disebut sebelumnya. Termasuk di dalam konjungsi hal-hal yang
menyatakan rincian. Kata-kata yang tenmasuk dalam konjungsi ini adalah bahkan,
apalagi, yakni, yaitu, umpama, misalnya, ringkasnya, dan akhirnya.
yang telah disebut sebelumnya. Termasuk di dalam konjungsi hal-hal yang
menyatakan rincian. Kata-kata yang tenmasuk dalam konjungsi ini adalah bahkan,
apalagi, yakni, yaitu, umpama, misalnya, ringkasnya, dan akhirnya.
13. Kata Penghubung Penjelas
(penetap)
Konjungsi
penjelas berfungsi menghubungkan bagian kalimat terdahulu dengan perinciannya.
Contoh kata dalam konjungsi ini adalah bahwa.
14. Kata Penghubung Pembenaran
(konsesif)
Konjungsi
pembenaran adalah konjungsi subondinatif yang menghubungkan dua hal dengan cara
membenarkan atau mengakui suatu hal, sementara menolak hal yang lain yang
ditandai oleh konjungsi tadi. Pembenanan dinyatakan dalam klausa utama(induk
kalimat), sementara penolakan dinyatakan dalam anak kalimat yang
didahului oleh konjungsi seperti, meskipun, walaupun, biar, biarpun, sungguhpun,
kendatipun, dan sekalipun.
didahului oleh konjungsi seperti, meskipun, walaupun, biar, biarpun, sungguhpun,
kendatipun, dan sekalipun.
15. Kata Penghubung Urutan
Konjungsi ini
menyatakan urutan sesuatu hal. Kata-kata yang termasuk dalam konjungsi ini
adalah mula-mula, lalu, dan kemudian.
16. Kata Penghubung Pembatasan
Kata penghubung
ini menyatakan pembatasan terhadap sesuatu hal atau dalam batas-batas mana
perbuatan dapat dikerjakan, misalnya kecuali, selain, dan asal.
17. Kata Penghubung Penanda
Kata penghubung
ini menyatakan penandaan terhadap sesuatu hal. Kata-kata yang
ada dalam konjungsi ini adalah misalnya, umpama, dan contoh. Konjungsi lain yang masih merupakan konjungsi penanda yaitu konjungsi penanda pengutamaan.
Contoh kata-kata konjungsi ini adalah yang penting, yang pokok, paling utama, dan terutama.
ada dalam konjungsi ini adalah misalnya, umpama, dan contoh. Konjungsi lain yang masih merupakan konjungsi penanda yaitu konjungsi penanda pengutamaan.
Contoh kata-kata konjungsi ini adalah yang penting, yang pokok, paling utama, dan terutama.
18. Kata Penghubung Situasi
Kata penghubung
situasi menjelaskan suatu perbuatan terjadi atau berlangsung
dalam keadaan tertentu. Kata-kata yang dipakai dalam konjungsi ini adalah sedang,sedangkan, padahal, dan sambil.
dalam keadaan tertentu. Kata-kata yang dipakai dalam konjungsi ini adalah sedang,sedangkan, padahal, dan sambil.
1.6. Kata Umum dan Khusus
Kata-kata umum (Generik) ialah kata-kata yang luas ruang lingkupnya,
sedangkan kata-kata khusus ialah kata-kata yang sempit ruang lingkupnya. Makin
umum, makin kabur gambarannya dalam angan-angan. Sebaliknya, makin khusus,
mikin jelas dan tepat. Karena itu, untuk mengefektifkan penuturan lebih tepat
dipakai kata-kata khusus dari pada kat-kata umum. Atau secara ringkas, Kata umum ialah kata yang luas ruang
lingkupnya dan dapat mencakup banyak hal, sedangkan kata khusus ialah kata yang
sempit/ terbatas ruang lingkupnya.
Contoh:
Umum : Darta menggendong adiknya sambil
membawa buku dan sepatu.
Khusus : Darta menggendong adiknya sambil
mengapit buku dan sepatu.
Umum : Bel berbunyi panjang
tanda pelajaran habis.
Khusus : Bel berdering panjang tanda
pelajaran habis.
Umum : Melihat.
Khusus : Melirik, melotot, mengamati, mengawasi.
1.7. Bahasa Substandar
Bahasa standar adalah
semacam bahasa yang dapat dibatasi sebagai tutur dari mereka yang mengenyam
kehidupan ekonomis atau menduduki status sosial yang cukup dalam suatu
masyarakat. Kelas ini meliputi pejabat-pejabat pemerintah, ahli bahasa, ahli
hukum, dokter, pedagang, guru, penulis, penerbit, seniman, insinyur, dan lain
sebagainya Bahasa non stsndar
adalah bahasa dari mereka yang tidak memperoleh pendidikan yang tinggi. Pada
dasarnya, bahasa ini dipakai untuk pergaulan biasa, tidak di pakai dalam
tulisan. Kadang unsur ini digunakan juga oleh para kaum pelajar dalam bersenda
gurau, dan berhumor. Bahasa non stadar juga berlaku untuk suatu wilayah yang
luas dalam wilayah bahasa standar.
Bahsa standar lebih efektif dari pada bahasa non standar. Bahasa non standar biasanya cukup untuk digunakan dalam kebutuhan-kebutuhan umum.
Bahsa standar lebih efektif dari pada bahasa non standar. Bahasa non standar biasanya cukup untuk digunakan dalam kebutuhan-kebutuhan umum.
1.8. Penggunaan Kata Ilmiah dan Modern
Dalam situasi yang umum hendaknya penulis dan pembicara mempergunakan
kata-kata populer. Tidak semua orang yang menduduki status sosial yang tinggi mempergunakan
gaya yang sama
dalam aktivitas bahasanya. Mereka akan mempergunakan beberapa macam variasi
pilihan kata sesuai dengan kesempatan yang dihadapinya. Pilihan kata dalam
hubungan dengan kesempatan yang dihadapi seseorang dapat dibagi atas beberapa
macam kategori sesuai dengan penggunaannya. Salah satu diantaranya adalah
kata-kata ilmiah lawan kata
populer.
populer.
Pilihan kata dalam hubungan dengan kesempatan yang dihadapi seseorang
dapat dibagi atas beberapa macam kategori salah satunya adalah kata-kata ilmiah
melawan kata-kata populer. Bagian terbesar dari kosa kata sebuah bahasa terdiri
dari kata-kata yang umum yang dipakai oleh semua lapisan masyarakat, baik yang
terpelajar maupun orang atau rakyat jelata. Maka kata ini dinamakan kata-kata
populer. Kata-kata ini juga dipakai dalam pertemuan-pertemuan resmi, dalam
diskusi-diskusi yang khusus, dan dalam diskusi-diskusi ilmiah.
Contoh:
Kata populer kata ilmiah
Sesuai Harmonis
Pecahan Fraksi
Aneh Eksentrik
Bukti Argumen
Kesimpulan konklusi
1.9. Jargon
Kata jargon mengandung beberapa pengertian.
Jargon adalah suatu bahasa,dialek, atau struktur yang dianggap kurang
sopan atau aneh tetapi istilah itu dipakai juga untuk mengacu semacam bahasa
atau dialek hybrid yang timbul dari percampuran bahasa-bahasa, dan sekaligus
dianggap sebagai bahasa perhubungan atau lingua franca. Jargon diartikan
sebagai kata-kata teknis atau rahasia dalam suatu bidang ilmu tertentu, dalam
bidang seni, perdagangan, kumpulan rahasia, atau kelompok-kelompok khusus
lainnya. Oleh karena jargon merupakan bahasa yang khusus sekali, maka tidak
akan banyak artinya bila dipakai untuk suatu sasaran yang umum. Sebab itu,
hendaknya dihindari sejauh mungkin unsur jargon dalam sebuah tulisan umum.
1.10.
Kata Slang
Kata-kata slang
adalah semacam kata percakapan yang tinggi atau murni.
Kata slang adalah kata-kata non standar yang disusun secara khas;
bertenaga dan jenaka yang dipakai dalam percakapan. Kadang kala kata slang yang
dihasilkan dari salah ucap yang disengaja. Kata-kata slang sebenarnya bukan
hanya terdapat pada golongan terpelajar, tetapi juga pada semua lapisan
masyarakat.
1.11.
Kata
Percakapan
Yang dimaksud dengan kata percakapan adalah kata-kata yang biasa dipakai
dalam percakapan atau pergaulan orang-orang yang terdidik. Termasuk didalam
kategori ini adalah ungkapan-ungkapan umum dan kebiasaan menggunakan
bentuk-bentuk gramatikal tertentu oleh kalangan ini. Pengertian percakapan di
sini sama sekali tidak boleh disejajarkan dengan bahasa yang tidak benar, tidak
terpelihara atau yang tidak disenangi. Bahasa percakapan yang dimaksud disini jauh
lebih luas cakupannya dari pengertian kata-kata populer dan
konstruksi-konstruksi idiomatis. Disamping kata-kata populer dan
konstruksi-konstruksi idiomatis, kata-kata percakapan mencakup pula sebagian
dari kata-kata ilmiah atau kata-kata yang tidak umum (slang)yang biasa dipakai
oleh golongan terpelajar saja. Suatu bentuk dari bahasa percakapan adalah
singkatan-singkatan misalnya dok, prof, kep, masing-masing untuk dokter,
profesor, dan kapten. Seperti halnya dengan kata-kata lainnya, kata-kata
percakapan ini bisa meresap ke lapisan-lapisan yang lebih rendah karena sering
dipakai.
1.12.
Kata Usang (
Idiom Mati )
Biasanya idiom disejajarkan dengan pengertian peribahasa dalam bahasa Indonesia.
Sebenarnya pengertian idiom itu jauh lebih luas dari peribahasa.Yang disebut
idiom adalah pola-pola struktural yang menyimpang dari kaidah-kaidah bahasa
yang umum, biasanya berbentuk frasa, sedangkan artinya tidak bisa diterangkan
secara logis atau secara gramatikal, dengan bertumpu pada makna kata-kata yang membentuknya.
Misalnya: seorang asing yang sudah mengetahui makna kata makan dan tangan,
tidak akan memahami makna perasa makan tangan. Siapa yang berfikir bahwa makan
tangan sama artinya dengan kena tinju atau beruntung besar ? dan selanjutnya
idiom-idiom yang menggunakan kata makan seperti: makan garam, makan hati, dan
sebagainya.
Atau, Idiom ialah ungkapan bahasa berupa gabungan kata (frase) yang
maknanya sudah menyatu dan tidak dapat ditafsirkan dengan unsur makna yang
membentuknya. Atau, Ungkapan atau idiom, yaitu perkataan atau sekelompok kata
yang khusus untuk menyatakan sesuatu maksud dalam arti kiasan. Contoh : Buah
ratap = isi ratapan, Buah baju = kancing, Buah pena = karangan.
Contoh lain :
(1) selaras dengan (2)
membanting tulang
insaf akan bertekuk
lutut
berbicara tentang mengadu
domba
Pada contoh (1) terlihat bahwa kata tugas dengan, akan, tentang, dengan
kata-kata yang digabungkannya merupakan ungkapan tetap. Jadi, tidak tepat jika
diubah atau digantikan, misalnya menjadi:
selaras
tentang
insaf dengan
berbicara akan
Demikian pula contoh (2), idiom-idiom tersebut tidak dapat diubah
misalnya menjadi:
membanting kulit
bertekuk paha
mengadu kambing
1.13.
Bahasa
Artfisial
Yang dimaksud dengan artifisial adalah bahasa yang disusun secara seni. Bahasa
yang artifisial tidak terkandung dalam kata yang digunakan, tetapi dalam pemakaiannya
untuk menyatakan suatu maksud. Fakta dan pernyataan-pernyataan yang sederhana
dapat diungkapkan dengan sederhana dan langsung tak perlu disembunyikan.
Artifisial : Ia mendengar kepak sayap kalelawar dan guyuran sisa hujan dari dedaunan, karena angin kepada kemuning.Ia mendengar resah kuda serta langkah pedati ketika langit bersih kembali menampakkan bima sakti yang jauh.
Biasa :Ia mendengar bunyi sayap kelelawar dan sisa hujan yang ditiup angin di daun. Ia mendengar derap kuda dan pedati ketika langit mulai terang .
Artifisial : Ia mendengar kepak sayap kalelawar dan guyuran sisa hujan dari dedaunan, karena angin kepada kemuning.Ia mendengar resah kuda serta langkah pedati ketika langit bersih kembali menampakkan bima sakti yang jauh.
Biasa :Ia mendengar bunyi sayap kelelawar dan sisa hujan yang ditiup angin di daun. Ia mendengar derap kuda dan pedati ketika langit mulai terang .
1.14.
Pemakaian
Kata Indria
Suatu jenis pengkhususan dalam memilih kata-kata yang tepat adalah
penggunaan istilah-istilah yang menyatakan pegalaman-pengalaman yang diserap
oleh panca indra, yaitu serapan indria penglihatan, pendengaran, peraba, perasa,
dan penciuman. Tetapi sering kali terjadi hubungan antara indria dengan indria
yang lain dirasakan begitu rapatnya, sehingga kata yang sebenarnya dikenakan
kepada suatu indria dikenakan pula pada indria lainnya. Gejala semacam ini
disebut sinestesia.
Contoh : wajahnya manis sekali.
Suaranya manis kedengarannya.
Kata-kata yang lazim dipakai untuk menyatakan penserapan itu adalah
Peraba : dingin, panas, lembab, basah, kering, dan kasar.
Perasa : pedas, pahit, asam, dan manis.
Pencium : basi, busuk, anyer dan tenggek.
Pendengaran : dengung, derung, ringkik, lengking, dan kicau.
Penglihatan : kabur, mengkilat, kemerah-merahan, dan seri.
Karena kata-kata indria melukiskan suatu sifat yang khas dari penserapan panca indria, maka pemakaiannya harus tepat.
Suaranya manis kedengarannya.
Kata-kata yang lazim dipakai untuk menyatakan penserapan itu adalah
Peraba : dingin, panas, lembab, basah, kering, dan kasar.
Perasa : pedas, pahit, asam, dan manis.
Pencium : basi, busuk, anyer dan tenggek.
Pendengaran : dengung, derung, ringkik, lengking, dan kicau.
Penglihatan : kabur, mengkilat, kemerah-merahan, dan seri.
Karena kata-kata indria melukiskan suatu sifat yang khas dari penserapan panca indria, maka pemakaiannya harus tepat.
2. PERUBAHAN MAKNA
Perubahan makna terjadi karena kata
tidak bersifat statis. Dari waktu ke waktu makna kata dapat mengalami
perubahan. Untuk menjaga agar pilihan kata selalu tepat maka setiap penutur
bahasa harus selalu memperhatikan perubahan-perubahan makna yang terjadi. Perubahan
makna terbagi menjadi 6 bagian, antara lain :
1)
Perluasan Makna (generalisasi)
Perluasan makna ialah perubahan makna dari yang lebih khusus atau sempit
ke yang lebih umum atau luas. Cakupan makna baru tersebut lebih luas daripada
makna lama.
Contoh:
makna lama makna
baru
Bapak: orang tua laki-laki semua
orang laki-laki yang lebih tua atau
berkedudukan lebih tinggi.
Saudara: anak
yang sekandung semua orang yang sama
umur/ derajat.
2)
Penyempitan Makna (Spesialisasi)
Penyempitan makna ialah perubahan makna dari yang lebih umum/ luas ke
yang lebih khusus/ sempit. Cakupan baru/ sekarang lebih sempit daripada makna
lama (semula).
Contoh:
makna lama: makna
baru:
sarjana : cendikiawan lulusan perguruan
tinggi
pendeta : orang yang berilmu guru Kristen
madrasah : sekolah sekolah agama Islam
3)
Peninggian Makna (ameliorasi)
Peninggian makna ialah perubahan makna yang mengakibatkan makna yang baru
dirasakan lebih tingg/ hormat/ halus/ baik nilainya daripada makna lama.
Contoh:
makna lama: makna
baru:
Bung : panggilan kepada orang laki-laki panggilan kepada pemimpin
Putra : anak laki-laki lebih tinggi daripada anak
4)
Penurunan Makna (Peyorasi)
Penurunan makna ialah perubahan makna yang mengakibatkan makna baru
dirasakan lebih rendah/ kurang baik/ kurang menyenangkan nilainya daripada
makna lama.
Contoh:
makna lama: makna
baru:
Bini : perempuan yang sudah dinikahi lebih rendah daripada istri/ nyonya
Bunting:
mengandung lebih
rendah dari kata hamil
5)
Persamaan (asosiasi)
Asosiasi ialah perubahan makna yang terjadi akibat persamaan sifat antara
makna lama dan makna baru.
Contoh:
makna lama: makna
baru:
Amplop : sampul surat uang
sogok
Bunga : kembang gadis cantik
Mencatut : mencabut dengan catut menarik keuntungan
6)
Pertukaran (sinestesia)
Sinestesia ialah perubahan makna akibat pertukaran tanggapan dua indera
yang berbeda dari indera penglihatan ke indera pendengar, dari indera perasa ke
indera pendengar, dan sebagainya.
Contoh:
Suaranya terang
sekali (pendengaran
penglihatan)
Rupanya manis (penglihat
perasa)
Namanya harum (pendengar
pencium)
3.
EFEK
KETATABAHASAAN PILIHAN KATA
Dengan adanya diksi/pemilihan kata bahasa semakin
tertata dan mudah diterima oleh pembacanya.
4. KELANGSUNGAN
PILIHAN KATA
Suatu cara untuk menjaga ketepatan pilihan kata adalah
kelangsungan. Kelangsungan pilihan kata adalah teknik memilih kata yang
sedemikian rupa, sehingga maksud atau pikiran seseorang dapat disampaikan secara
tepat dan ekonomis. Kelangsungan dapat terganggu bila seorang pembicara atau
pengarang mempergunakan terlalu banyak kata untuk suatu maksud yang dapat
diungkapkan secara singkat, atau mempergunakan kata-kata yang kabur yang bisa
menimbulkna ambiguitas (makna ganda).
PENUTUP
6. KESIMPULAN
Dari materi diatas, dapat disimpulkan bahwa diksi diartikan
sebagai pilihan kata pengarang untuk menggambarkan cerita meraka. Diksi bukan
hanya berarti pilih memilih kata. Istilah ini bukan saja digunakan untuk
menyatakan gagasan atau menceritakan peristiwa tetapi juga meliputi persoalan gaya bahasa,
ungkapan-ungkapan, dan sebagainya. Adapun fungsi diksi adalah untuk memperoleh
keindahan guna menambah daya ekspresivitas. Contoh-contoh penggunaan diksi
didalam cerita fiktif misalnya oenggunaan metapora, anaphora, litotea, simile,
personifikasi, dan sebagainya.
Adapun unsure-unsur
yang terdapat dalam diksi yaitu :
1.
Ketepatan dan kesesuaian kata
2.
Perubahan makna
3.
Efek ketatabahasaan pilihan kata
4.
Kelangsungan pilihan kata.
7. AJAKAN
Dari materi yang telah disampaikan diatas, hendaknya kita
semua dapat menggunakan bahasa dengan naik dan benar.dengan menggunakan pilihan
kata yang sesuai dalam suatu situasi, dalam menyatakan suatu gagasan, atau
dalam menceritakan suatu peristiwa.
Dan dengan paparan materi diatas, hendaknya kita menggunakan
aturan-aturan yang telah diberikan dalam ketatabahasaan yang berlaku. Dengan
adanya aturan-aturan tersebut maka kita dapat menghasilkan kata-kata atau
kalimat-kalimat yang baik dan benar. Dan dengan begitu pula, kita dapat
melestarikan bahasa Indonesia dengan aturan yang sesuai.
DAFTAR PUSTAKA
www. Google . com
-
diksi / pilihan
kata
-
hal-hal yang
mempengaruhi
-
contoh-contoh
diksi
-
syarat-syarat
penggunaan diksi
-
majas
-
perluasan arti
-
makna
www. Wikipedia.
com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar